Onomist’s Blog

Desember 23, 2009

Mengucapkan “Selamat Natal”

Diarsipkan di bawah: Islami — Tag: — onomist @ 10:44 am

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, beserta keluarga dan para sahabat.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (*QS. Al-Maidah: 51)
(lagi…)

MENGGUGAT HARI IBU !!!

Diarsipkan di bawah: Islami — Tag: — onomist @ 7:44 am

22–25 Desember Tahun 1928 bertepatan tahun dengan diadakannya sumpah pemuda, digelarlah kongres yang sama diadakan oleh organisasi-organisasi kewanitaan di Yogyakarta. Kongres tersebut dihadiri oleh 30 organisasi mewakili 12 daerah di jawa dan Sumatera. Mereka saat itu berkumpul untuk mempersatukan organisasi-organisasi wanita ke dalam satu wadah demi mencapai kesatuan gerak perjuangan untuk kemajuan wanita bersama dengan pria dalam mewujudkan Indonesia merdeka. Kongres yang sama diadakan pada tanggal yang sama tahun 1938, di Bandung. Kongres tersebut menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu dengan semangat kebangkitan wanita Indonesia bergerak sejajar dengan para pria. Presiden Soekarno melalui Dekrit No. 316 tahun 1959 menetapkan bahwa Hari ibu merupakan hari nasional yang diperingati setiap tahunnya.

Berdasarkan sejarah yang tersaji mengenai ditetapkannya tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu di Indonesia memang tidak lepas dari ideology feminism yang tertanam dalam visi aktivis perempuan pada masa itu. Budaya tradisional masyarakat Indonesia khusunya di Jawa pada waktu itu memang cenderung membatasi peran wanita di tatanan kehidupan social. Penerapan budaya tersebut sangat terasa merugikan bagi kebanyakan kaum wanita kala itu. Banyak perempuan yang tidak dapat mengenyam bangku pendidikan, diskriminasi dalam pekerjaan , dan hal-hal lain yang menyebabkan kaum perempuan pada waktu itu merasa harus bangkit dari diskriminasi.
(lagi…)

November 21, 2009

Musim Haji Kali ini, Dimana Pemimpin Kaum Muslimin ?

Diarsipkan di bawah: Islami — Tag: — onomist @ 6:06 am

Memasuki musim haji tahun ini, kaum Muslim disibukkan oleh keprihatinan terkait berbagai persoalan dalam agama mereka, serta berbagai bencana dan tragedi yang masih terbuka lebar di depan pintu-pintu mereka.

Sementara jutaan kaum Muslim pergi menunaikan ibadah haji dengan membawa semua keprihatinan ini agar mereka dapat mengadukan penderitaan dan kesedihannya yang mendalam kepada Allah, dan agar mereka dapat berdiri di depan pintu al-Multazim, yaitu tempat di mana Allah tidak akan menolak seruan (doa) seorang hamba yang berdiri di pintunya, dan berilindung di sampingnya.

Kaum Muslim pergi menunaikan ibadah haji, sementara masih segar dalam ingatan mereka tentang pembantaian Amerika terhadap kaum Muslim di Afghanistan, Irak, dan di berbagai tempat lainnya; pembantaian Yahudi di Palestina, yang karena kebenciannya telah menodorongnya melakukan setiap kejahatan; pembantaian Rusia terhadap kaum Muslim Chechnya; dan pembantaian kaum Hindu, penyembah sapi, terhadap kaum Muslim Kashmir …!

Kaum Muslim pergi menunaikan ibadah haji untuk mengadukan kepada Tuhan mereka tentang para penguasa mereka yang sudah dan sedang berkoalisis dengan para musuh untuk menghancurkan kaum Muslim; mengadukan para penguasa yang sedang membantu Barat, Yahudi, Rusia, dan Hindu dalam memerangi mereka, yang menyerukan kepada Islam …!

(lagi…)

November 13, 2009

‘Negara Pajak’: Menindas Rakyat

Diarsipkan di bawah: Islami — Tag: — onomist @ 11:37 am

Gemah ripah loh jenawi toto tentrem kertoraharjo. Kalimat ini selalu mengiang di telinga rakyat Indonesia. Jika melihat sumberdaya alam Indonesia yang melimpah maka tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut. Bahkan merupakan fakta yang harus disyukuri sebagai rahmat dan karunia sang Khalik.

Dengan sumberdaya alam yang besar, negara-negara kapitalis berupaya memperebutkan pengaruhnya di Indonesia. Bahkan untuk komoditi minyak sawit (crude palm oil/CPO), Indonesia kini menduduki peringkat wahid, menyalip Malaysia dengan produksi hampir 18 juta ton. CPO menjadi salah satu pendulang devisa negara non-migas terbesar bagi Indonesia. Sebab, volume dan nilai ekspornya tiap tahun terus meningkat.

Kekayaan alam lainnya yang terpendam di bumi Indonesia juga sangat besar. Sebut saja minyak mentah, gas alam, timah, tembaga dan emas. Indonesia termasuk pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia. Indonesia memiliki 60 ladang minyak, 38 di antaranya telah dieksplorasi, dengan cadangan sekitar 77 miliar barel minyak dan 332 triliun kaki kubik (TCF) gas. Kapasitas produksinya baru sekitar 0,48 miliar barel minyak dan 2,26 triliun TCF.

Salah satu ladang minyak Indonesia yang sangat potensial adalah  Blok Cepu.  Secara bisnis potensi minyak Blok Cepu sangat menggiurkan. Setiap harinya, ladang minyak Blok Cepu ini  bisa menghasilkan sekitar 200.000 barel perhari. Jika diasumsikan  harga minyak 60 dolar AS/barel maka dalam sebulan mampu menghasilkan dana Rp 3,6  triliun atau Rp 43, 2 triliun setahun.

Indonesia juga memiliki wilayah alam yang mendukung dengan tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia mempunyai keberagaman, berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda hidup dalam satu negara. Karena itu, kemudian muncul semboyan nasional Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu).

(lagi…)

Ketika Hukum Allah Diabaikan (I)

Diarsipkan di bawah: Islami — Tag: — onomist @ 11:31 am

Pemilu Legislatif dan Pilpres telah usai. Kabinet pun telah selesai dibentuk. Berbagai target dan program kerja pemerintah mulai disusun dan dikerjakan. Anggota legislatif yang mayoritas mereka adalah muslim juga mulai membahas berbagai UU yang akan diimplementasikan di negeri Islam terbesar di dunia ini.

Meski sebagian besar wajah di pemerintahan dan legislatif adalah wajah baru namun disayangkan paradigma sekularisme masih dijadikan sebagai asas bernegara. Hukum-hukum Allah dipinggirkan sementara akal dan hawa nafsu manusia dijunjung tinggi. Padahal al-Quran sebagai pedoman umat Islam telah mengingatkan bahaya dan ancaman atas sikap demikian.

Al-Quran telah memaparkan bahwa orang-orang yang mengabaikan syariat Islam dan menerapkan hukum selain Allah swt akan mendapatkan berbagai bencana baik pada agama, dunia dan akhirat mereka. (lagi…)

November 10, 2009

Poligami Dalam Tinjauan Historis, Politis dan Normatif

Diarsipkan di bawah: Islami — Tag: — onomist @ 11:37 am
Oleh : KH. M. Shiddiq al-Jawi**

kh-m-shiddiq-al-jawi1. Pengantar

Poligami berulang kali menjadi isu kontroversial di Indonesia. Yang terbaru adalah ketika ada peresmian (launching) Klub Poligami Indonesia di Bandung 17 Oktober 2009 lalu. Dalam peresmian yang dilaksanakan Hotel Grand Aquila Bandung itu, hadir juga ketua klub poligami Malaysia Global Ikhwan Chodijah Binti Am. (www.antaranews.com).

Reaksi dari kaum sekuler / liberal pun bermunculan. LSM Institut Perempuan menolak klub poligami Indonesia itu (19/10). Direktur LSM Institut Perempuan, Elin Rozana, berkomentar, “Kami menolak klub poligami Indonesia. Peluncuran klub poligami ini telah menyakiti hati perempuan dan merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan.” (www.antaranews.com).

Tak lama kemudian berdirilah Koalisi Laki-laki Anti Poligami guna menandingi Klub Poligami tersebut (1/11). Koalisi ini bertujuan untuk membuktikan bahwa, “Tidak semua laki-laki setuju dan mengamini poligami,” kata anggota Koalisi Laki-Laki Anti Poligami Wawan Suwandi. Poligami menurutnya adalah bentuk perendahan martabat lelaki karena membuktikan lelaki tidak bisa memanajemen syahwatnya. (www.tempointeraktif.com).

Sebelum ini, pro kontra seputar poligami juga meledak beberapa saat sebelum Pemilu Caleg pada bulan Maret 2009 lalu. Menjelang Pemilu Caleg, muncul slogan “Jangan Pilih Caleg Poligami.” Aktivis Solidaritas Perempuan Indonesia (SPI), Yenny Rosa Damayanti, menilai para elit yang berpoligami sangat rentan melakukan korupsi karena menanggung lebih dari satu keluarga. SPI dalam mendeklarasikan gerakannya pun menyebutkan sejumlah nama caleg dan anggota DPR yang melakukan atau mendukung praktik poligami. Mereka adalah Ahmad Muqowam (PPP), Endin AJ Soefihara (PPP), Syahrial (PPP), Usamah Al Hadar (PPP), Daud Rasyid (PKS), Didin Amaruddin (PKS), Tifatul Sembiring (PKS), Anis Matta (PKS), Zulkieflimansyah (PKS), Effendy Choirie (PKB) dan AM Fatwa (PAN). (www.inilah.com). (lagi…)

November 9, 2009

Tips Agar Hidupmu Lezaaat…

Diarsipkan di bawah: Islami — Tag: — onomist @ 10:14 am

Kita mungkin pernah berandai-andai “kapan saya kaya, andai jadi artis terkenal” atau protes “kenapa saya pendek, hitam, gemuk, kurus, dsb” ya

Seorang kakak kepada ibunya: “bu kenapa aku lebih pendek dibandingkan ade?”
Seorang ade kepada ibunya: “bu kenapa kakak lebih putih kulitnya dibandingkan aku?”

Akhirnya si kakak memakai sepatu berhak tinggi untuk menutupi kekurangannya, dan si ade memakai cream pemutih untuk membuat kulitnya lebih putih. Dan hasilnya cling! Keduanya dapat mengatasi masalahnya masing-masing.

Memperbaiki diri adalah sesuatu hal yang baik, akan tetapi bersyukur atas segala hal yang kita punya itu lebih penting, dan kita akan lebih bisa menikmatinya. Dengan bersyukur kita akan punya pikiran yang positif tentang diri kita sendiri.

Segala kekurangan diri kita, nggak bakal membuat kita putus harapan, pesimis apalagi membuat hidup kita menjadi tidak lezat. Dengan banyak bersyukur maka sifat iri juga akan menjauh dan membuat hidupmu menjadi lebih lezaaat…

Dai kondang Aagym sering mengutarakan ini “kalau nasi sudah menjadi bubur, ya sudah beri kerupuk, cakue, sambal, sledri,daging ayam, bawang goring maka siap menjadi bubur ayam yang lezaat…” Nah, begitu pula dengan kehidupan, tinggal bagaimana kita membuat segala sesuatunya menjadi lezat untuk dinikmati.

Jadi wajar aja kalau orang-orang yang pinter bersyukur bakalan bertambah segala kebaikannya. Sebaliknya lupa bersyukur bakal bikin hidup makin sengsara. (lagi…)

Muslim Dunia 1,5 Milyar, Umat Islam Masih Tertindas

Diarsipkan di bawah: Islami — Tag: — onomist @ 10:00 am

The Pew Forum on Religion and Public Life dalam laporannya baru-baru ini menyodorkan data tentang jumlah Muslim dunia melonjak hampir 100 persen dalam beberapa tahun ini. “Rata-rata di tiap negara bertambah dari semula 1 juta menjadi 1,8 juta penganut,” tulis laporan terbaru tentang riset yang dilakukan selama tiga tahun itu.

Angka pastinya, menurut laporan itu, jumlah penganut Islam di seluruh dunia saat ini mencapai 1,57 miliar jiwa. “Kini, hampir satu dari empat penduduk dunia mempraktikkan ajaran Islam,” tulis laporan dengan judul “Mapping the Global Muslim Population.”

Indonesia disebut-sebut dalam laporan itu merupakan negara dengan populusi muslim terbesar di seluruh dunia , lebih kurang 203 juta atau 13 persen dari seluruh penduduk Muslim dunia. Sebanyak 60 persen jumlah Muslim dunia tinggal di kawasan Asia, bukan di Timur Tengah, tempat asal ajaran agama ini. (lagi…)

Bagaimana konsep kufu’ dalam pernikahan?

Diarsipkan di bawah: Islami — Tag: — onomist @ 9:43 am

Agama Islam memandang masalah kufu’ dalam pernikahan artinya selevel, kesepadanan, sederajat atau sebanding, yaitu : laki-laki sebanding dengan calon isterinya.

Segolongan ulama berpendapat yang menjadi ukuran kufu’ ialah dalam hal paradigma keimanan/ketakwaan, akhlak dan kesamaan cara berfikir, bukan dalam ukuran keturunan, pendidikan, pekerjaan, kekayaan, status sosial dan lain sebagainya.

Sehingga diharapkan segala perbedaan yang ada bisa dijembatani dan potensi keseimbangan untuk penyesuaian diri dan untuk saling melengkapi tidak terlalu sulit untuk dilakukan.
(lagi…)

Oktober 26, 2009

Keadilan menurut Ibn Taimiyah

Diarsipkan di bawah: Islami — Tag: — onomist @ 12:48 pm

Allah menolong negara yang adil walaupun (negara itu) kafir dan tidak akan menolong negara zalim walaupun negara itu Mukmin (Syaikhul Islam Ibn Taimiyah).

Pernyataan di atas adalah benar pernyataan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dalam salah satu kitabnya, Majmû’ al-Fatâwâ (VI/322).

Pertanyaannya adalah, apa makna sebenarnya dari pernyataan tersebut? Benarkah bagi Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah—dengan ungkapan tersebut—sistem yang tidak islami atau sistem Islam itu bukanlah suatu hal urgen dan yang urgen adalah keadilan? Bisakah ungkapan di atas dijadikan hujjah bagi kebolehan ber-musyârakah dengan sistem yang tidak islami dan berkoalisi dengan partai sekular?

(lagi…)

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.