DEMOKRASI : ILUSI DAN KUFUR!

Posted: Agustus 3, 2011 in Nasehat

Wawancara dengan :
Muhammad Ismail Yusanto,
Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia

Kisruh yang sedang dipertontonkan Partai Demokrat adalah bukti teranyar bahwa kedaulatan rakyat hanyalah ilusi. Bagaimana dengan jargon demokrasi lainnya seperti suara rakyat suara tuhan? Demokrasi menjamin persamaan di depan hukum? Demokrasi menjamin kebebasan? Demokrasi menjamin kesejahteraan untuk semua? Temukan Jawabannya dalam wawancara wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail.Yusanto, berikut petikannya :

Apa yang terbayang di benak Anda ketika Nazaruddin menyatakan bahwa “siapa bilang saat itu yang menang demokrasi, yang menang duit”?
>> Pernyataan ini mengonfirmasikan apa yang selama ini kita yakini, bahwa di negara kita saat ini memang tengah berlangsung politik transaksional. Yaitu pertukaran atau imbal balik antara jabatan politik dan keputusan-keputusan politik dengan uang.
Dan hal itu ternyata terjadi juga di tubuh partai Partai Demokrat, yang dalam kampanyenya dulu mengusung slogan “Katakan Tidak Pada Korupsi” Dukungan untuk Ketua Umum Partai Demokrat pada kongres lalu ternyata diberikan oleh cabang-cabang dengan imbalan sejumlah uang. Jadi betul kata Nazar, pemenangnya adalah duit. Siapa saja yang mampu menebar fulus dialah yang bisa meraih kuasa dengan mulus.

Apakah money politics tersebut merupakan kasuistik atau memang inheren dalam sistem demokrasi?
>> Bila politik transaksional hanya terjadi di satu partai, mungkin benar itu disebut hanya bersifat kasuistik. Tapi faktanya itu terjadi di semua partai. Bahkan juga terjadi di tubuh pemerintahan.
Baik di pusat maupun di daerah, di level legislatif dalam bentuk peraturan perundangan maupun di level eksekutif berupa kebijakan pimpinan pemerintahan, dan di level yudikatif berupa putusan-putusan pengadilan. Semua bisa dibeli dengan uang.
Memang ada satu dua kepala daerah seperti Walikota Solo Joko Widodo, yang dalam Pilkada lalu bisa menang lebih dari 90 persen suara nyaris tanpa mengeluarkan uang karena ia tidak melakukan kampanye apa-apa.
Rekam jejak dialah yang membuat rakyat Solo memilihnya kembali menjadi walikota untuk kedua kali. Tapi ini adalah perkecualian. Umumnya pilkada penuh dengan lumuran fulus. Jadi, money politics itu inheren (tak terpisahkan) dalam sistem demokrasi.

Apa bahayanya?
>> Bahaya paling besar tentu saja adalah berkuasanya kekuatan modal. Dukungan politik, putusan dan kebijakan politik, termasuk putusan pengadilan menjadi tidak bisa berjalan secara obyektif. Semua tergantung ada uangnya atau tidak.
Bila ini dibiarkan, nantinya akan terjadi yang duduk di tampuk pemerintahan adalah mereka yang memiliki modal besar atau orang yang didukung para pemilik modal. Dan ketika memimpin, ia akan lebih berpihak kepada pemilik modal. Kepentingan rakyat dan kebenaran makin tersisih.

Andai sistem demokrasi diterapkan sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi money politics, yang mau coba-coba juga langsung ditindak tegas, apakah Anda setuju dengan demokrasi seperti itu?
>> Tetap tidak setuju.

Mengapa?
>> Money politics atau politik transaksional hanyalah salah satu implikasi atau konsekuensi buruk dari demokrasi, tapi penolakan kita bukan hanya didasarkan pada hal itu. Masih ada soal lain yang lebih penting, yakni kenyataan bahwa demokrasi itu meminggirkan kedaulatan Tuhan.
Allah SWT yang semestinya menjadi satu-satunya pihak yang berhak menetapkan hukum, menentukan baik dan buruk serta benar dan salah, telah digeser oleh kedaulatan (wakil) rakyat.
Kalaupun pada beberapa hal, para wakil rakyat itu mengambil hukum Allah SWT (syariah), tetap saja tidak mengubah fakta mengenai pengabaikan terhadap kedaulatan Allah SWT itu, karena mereka mengambil syariah bukan sebagai satu-satunya pilihan, tapi sekadar sebagai salah satu alternatif sumber hukum dalam proses legislasi.

Jadi masalah pokok penolakan terhadap demokrasi itu terletak pada siapa yang berdaulat?
>> Ya, persis.

Meski pengusung demokrasi menyatakan kedaulatan di tangan rakyat, tapi faktanya
sejak demokrasi dicetuskan hingga kini, apakah pernah rakyat benar-benar berdaulat?
>> Kita lihat saja negeri ini. Bila rakyat berdaulat diartikan hak rakyat untuk memilih pemimpin, di masa Orde Baru (wakil) rakyat memilih berdasar paksaan dan rekayasa. Di masa Orde Lama, Presiden Soekarno bahkan bukan dipilih oleh rakyat tapi oleh sebuah panitia kecil.
Di era reformasi agak mending, rakyat bisa memilih secara langsung.Tapi calon yang harus dipilih, ternyata adalah figur-figur yang tidak lepas dari praktek money politics. Walhasil, meski rakyat yang memilih, pemenangnya tetap saja adalah pemilik modal juga karena merekalah yang memungkinkan sang calon maju dalam pemilihan.
Sedangkan bila kedaulatan rakyat diartikan rakyat berhak menetapkan peraturan perundang-undangan, faktanya sangat banyak peraturan perundangan yang justru merugikan rakyat. Contohnya, UU Nomer 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang saat ini tengah diuji materi oleh MK.

Berarti “demokrasi = kedaulatan rakyat” itu hanya ilusi?
>> Ya, hanya ilusi.

Kalau suara rakyat suara tuhan?
>> Apalagi ini. Ini kredo yang lebih ilutif. Ngawur. Mana ada suara rakyat suara Tuhan. Dalam perspektif tauhid, malah bisa jatuh syirik karena menyamakan pendapat makhluq dengan Khaliq.
Dari segi fakta, dalam sistem demokrasi justru banyak sekali lahir peraturan perundangan-undangan atau keputusan politik yang bertentangan dengan ketentuan Tuhan. Ambil contoh, legalisasi UU Perbankan yang berbasis riba. Tuhan yang mana yang dimaksud oleh mayoritas penduduk negeri ini yang Muslim itu bila bukan Allah SWT?

Kalau demokrasi menjamin persamaan di depan hukum?
>> Memang teorinya, dalam demokrasi ada equality before the law (persamaan di muka hukum). Tapi faktanya, justru dalam demokrasi ada mekanisme mekanisme yang membuat persamaan itu tidak terjadi.
Ambil contoh, terhadap rakyat yang diduga melakukan kejahatan, aparat penegak hukum boleh langsung menangkap. Bahkan terduga teroris boleh langsung ditembak. Tapi kalau pejabat negara, bupati, walikota, gubernur, menteri atau anggota DPR, harus ada persetujuan Presiden lebih dulu. Akibatnya, pelaku kejahatan dari kalangan pejabat tidak bisa ditindak dengan cepat.

Demokrasi menjamin kebebasan?
>> Mungkin benar demokrasi menjamin kebebasan, tapi kebebasan di sini lebih banyak terkait perilaku. Sementara bila sudah menyangkut gagasan, pemikiran dan cita-cita, tidak ada lagi kebebasan itu.
Buktinya, di banyak negara yang ngaku demokrasi, pejuang syariah dan khilafah mendapat penindasan luar biasa. Bahkan sekarang ini di negara Barat umat Islam juga tengah mengalami tekanan. Mereka dilarang memakai purdah atau niqab.

Demokrasi menjamin kesejahteraan buat semua?
>> Teorinya, demokrasi menjamin pula persamaan dalam akses ekonomi. Tapi faktanya, para pemilik modal dan mereka yang dekat kepada penguasalah yang paling banyak mendapatkan pembagian kue ekonomi. Akibatnya, yang kaya semakin kaya, sementara kebanyakan rakyat makin tersisih. Terjadilah apa yang disebut ketimpangan kesejahteraan (wealth inequality).

Kalau begitu, berlebihankah bila disimpulkan bahwa demokrasi sebagai sistem ilusif dan kufur?
>> Ya sangat ilusif. Dan karena sejak dari asasnya yang sekuleristik, tolok ukurnya yang bukan lagi halal dan haram, hingga implikasi buruknya sangat bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam, maka tepat sekali demokrasi disebut sistem kufur. Justru sebaliknya sangat berlebihan bila dikatakan demokrasi itu sesuai dengan ajaran Islam.

Sebentar lagi kita memasuki bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan agung. Kedatangannya perlu disambut dengan penuh kegembiraan dan penghormatan yang agung pula. Allah SWT menegaskan bahwa pada bulan Ramadhanlah al-Quran yang Mulia diturunkan (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 185). Di bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yakni Lailatul Qadar (QS al-Qadar [97]: 1). Di bulan ini pula Allah SWT melimpahkan pahala yang berlipat ganda hingga puluhan, ratusan kali lipat, bahkan hingga jumlah yang Allah kehendaki untuk setiap amal salih dibandingkan dengan di bulan-bulan lain. Rasulullah saw. juga bersabda:

«قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانَ شَهْرٌ مَبَارَكٌ اِفْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَ تُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الجَحِيْمِ وَ تُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرُ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ»

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan keberkahan. Allah telah mewajibkan kalian shaum di dalamnya. Di bulan itu pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di bulan itu terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan (HR an-Nasa’i dan al-Baihaqi). Baca entri selengkapnya »

install-xp

Pernahkah anda menginstall ulang windows tanpa harus melakukan format hard disk (tanpa me-repair) dan tanpa harus menginstall ulang kembali driver dan aplikasi yang sudah ada ? Jika belum silahkan lanjut untuk membaca artikel ini.

Menginstal ulang Komputer merupakan pekerjaan yang cukup membosankan dan menyita waktu kita. Karena setelah menginstall OS windowsnya kita harus menginstall kembali semua driver, semua aplikasi dan juga harus menyelamatkan datanya terlebih dahulu, serta mensetting kembali windows.

Penasaran dengan cara ini? Berikut Langkah-langkahnya :
Baca entri selengkapnya »

Kenali Musuhmu- Tsun Zu

(dengan mencantumkan foto Presiden saya di sini bukan berarti SBY adalah musuh yg saya maksud, saya hanya ingin menjelaskan bagaimana saat ini negara kita tercinta, Indonesia benar-benar menjadi boneka Amerika Serikat, dan Presidennya tak lagi memiliki kekuasaan untuk membela rakyat…)

Ini adalah catatan kedua saya tentang Penipuan Isu Pemanasan Global, hubungannya dengan Program Depopulasi dan mengapa Indonesia menjadi salah satu sasaran program ini.

Catatan ini juga saya angkat di buku kedua saya, NOVUS ORDO SECLORUM dan buku keempat yang masih belum kelar INDONESIA INCORPORATED. Baca entri selengkapnya »

Pemerintah dan Kaum Liberal Ambil Untung

Posted: Februari 18, 2011 in Islami
Banyak kasus besar tertutupi dengan kasus Ahmadiyah. Selain itu, isu pembubaran ormas muncul kembali. 

Tuntutan pembubaran Ahmadiyah bergema puluhan tahun yang lalu. Ibarat pepatah, “anjing menggonggong kafilah berlalu”, tuntutan itu tak pernah dipenuhi pemerintah. Pemerintah baru bereaksi bila sudah ada bentrokan di tengah masyarakat.

Mantan juru bicara Abdurrahman Wahid, Adhie Massardi menyebut, kasus Ahmadiyah sengaja dipelihara oleh pemerintah dan digunakan bila diperlukan. ”Khusus Ahmadiyah memang digantung seperti dipelihara, kalau ada kepentingan baru dikeluarkan. Jadi sengaja didesain untuk mengalihkan isu yang menyudutkan pemerintah,” kata Adhie seperti dikutip inilah.com, Senin (7/2). Ia menyebut, kasus Ahmadiyah ini bisa menutup isu kebohongan SBY yang dilemparkan para tokoh agama, gaji pejabat yang mau naik, mafia pajak Gayus Tambunan, persoalan ekonomi, ancaman demo Mesir menular ke Indonesia, krisis pangan, termasuk rekening gendut Polri yang baru saja diperintahkan dibuka oleh Komisi Informasi Publik (KIP). “Jadi menutupi isu-isu tersebut,” ungkapnya. Baca entri selengkapnya »

Bentrokan fisik kembali pecah antara masyarakat dengan jemaat Ahmadiyah, terjadi sekitar pukul 10.30 Wib hari Ahad (6/2/2011), di kampung Pasir Peuteuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Akibatnya tiga orang tewas dan sejumlah lainya luka-luka. Menurut beberapa sumber informasi yang bisa dipercaya, bentrokan dipicu oleh sikap dan pernyataan jemaat Ahmadiyah yang provokatif terhadap masyarakat setempat. Kapolri Timur Pradopo menyatakan para penentang Ahmadiyah adalah warga setempat dan sementara Jemaat Ahmadiyah dibantu sekitar 15 orang yang disinyalir datang dari Bekasi (Republika, 7/2) -menurut sebagian media lain, jumlahnya sekitar 20 orang lebih datang dari Jakarta – dengan maksud mengamankan aset Ahmadiyah dan membela jemaat Ahmadiyah sampai titik darah penghabisan.

Peristiwa itu mendapat sorotan banyak pihak, baik pemerintah, pemuka agama, tokoh masyarakat dan LSM bahkan pihak asing. Apalagi ketika peristiwa terjadi, tengah diselenggarakan “World Interfeith Harmony Week” oleh Inter Religious Council (IRC) di Istora Senayan, Jakarta, Ahad (6/2) yang bertujuan mendorong kerukunan dan toleransi serta mengakhiri pertikaian dan kekerasan antar umat beragama.

Baca entri selengkapnya »

Kenapa Wajib Menolak Obama ?

Posted: November 9, 2010 in Nasehat

Salah satu faktor penting dalam politik luar negeri sebuah negara adalah menentukan siapa negara musuh dan siapa negara kawan. Penentuan status musuh atau kawan sangat penting bagi keamanan negara dan juga menentukan bagaimana kebijakan yang benar terhadap negara tersebut. Tentunya adalah sangat berbahaya kalau negara yang jelas-jelas musuh kemudian dianggap negara mitra atau negara sahabat. Justru inilah yang menjadi kesalahan utama dari politik luar negeri Indonesia. Amerika Serikat yang jelas-jelas adalah negara penjajah dianggap sebagai negara mitra atau sahabat. Padahal Indonesia mengklaim diri sebagai negara yang anti penjajahan.

Dalam Islam status Amerika adalah sangat jelas, disebut sebagai muhariban fi’lan ,yaitu negara kafir yang secara nyata-nyata memerangi umat Islam. Karena itu status terhadap Amerika adalah permusuhan dan peperangan. Amerika Serikat secara terbuka dan terbukti telah melakukan pembantaian terhadap umat Islam di berbagai kawasan seperti Irak, Afghanistan, dan Yaman. Jutaan umat Islam menjadi korban perang barbar Amerika Serikat ini. Baca entri selengkapnya »

Pemuda dikenal dengan agent of change, dalam realitasnya mereka memang mempunyai daya gedor yang luar biasa dalam melakukan perubahan. Tengok saja, bagaimana begitu gagahnya nabi Ibrahim.as muda yang begitu lugas menentang kebatilan yang ada di sekelilingnya. Sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur’an: “Mereka berkata: ‘Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? sungguh dia termasuk orang yang zalim, Mereka (yang lain) berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala) ini, namanya Ibrahim.” (QS.Al-Anbiya, 21:59-60).

Begitu juga para pemuda tangguh yang bersama-sama Rasulullah SAW dalam rangka melakukan perombakan terhadap tatanan jahiliyah yang ada. Sebut saja, Ali bin abi thalib (8 tahun), Zubair bin awwam (8 tahun), thalhah bin ubaidillah ( 11 tahun), al-arqam bin abi al-arqom (12 tahun), Abdullah bin Mas’ud (14 tahun), saad bin Abi Waqqash (17 tahun), ja’far bin Abi Thalib (18 tahun), zaid bin haristah (20 tahun ), mush’ab bin Umair (24 Tahun), Umar bin Khattab (26 tahun, juga Abu bakar ash-shidiq (37 tahun) ketika awal mula tampil sebagai pembela Islam. Mereka semua telah menorehkan tinta emas dalam perjuangan dan perubahan.

Di belahan bumi manapun, termasuk di Indonesia, pemuda seringkali mejadi icon dari perubahan tersebut, terlepas dari seperti apa bentuk perubahan itu. Saking besarnya potensi yang dimiliki oleh pemuda, sampai-sampai bung Karno pernah mengatakan “Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia”.
Baca entri selengkapnya »

HUKUM PEMBIAYAAN TALANGAN HAJI

Posted: Oktober 19, 2010 in Konsultasi

Tanya :

Ustadz, bagaimana hukumnya pembiayaan talangan haji?

Jawab :

Pembiayaan talangan haji adalah pinjaman (qardh) dari bank syariah kepada nasabah untuk menutupi kekurangan dana guna memperoleh kursi (seat) haji pada saat pelunasan BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji). Dana talangan ini dijamin dengan deposit yang dimiliki nasabah. Nasabah kemudian wajib mengembalikan sejumlah uang yang dipinjam itu dalam jangka waktu tertentu. Atas jasa peminjaman dana talangan ini, bank syariah memperoleh imbalan (fee/ujrah) yang besarnya tak didasarkan pada jumlah dana yang dipinjamkan.

Dasar fikihnya adalah akad qardh wa ijarah, sesuai Fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) MUI Nomor 29/DSN-MUI/VI/2002 tanggal 26 Juni 2002 tentang biaya pengurusan haji oleh LKS (lembaga keuangan syariah). Jadi akad qardh wa ijarah adalah gabungan dua akad, yaitu akad qardh (pinjaman) dengan akad ijarah (jasa), yaitu jasa LKS memberikan pinjaman kepada nasabah. Dalil utama fatwa DSN ini antara lain dalil yang membolehkan ijarah (seperti QS Al-Qashash [28]:26) dan dalil yang membolehkan meminjam uang (qardh) (seperti QS Al-Baqarah [2]:282). Baca entri selengkapnya »

Oleh: Hafidz Abdurrahman

Bulan Ramadhan tidak hanya berarti syahru as-shiyam (bulan puasa) bagi umat Islam, tetapi juga syahr al-jihad wa al-intisharat (bulan perang dan kemenangan). Banyak peperangan dan kemenangan justru diraih oleh kaum Muslim sejak zaman Nabi Muhammad saw. hingga generasi berikutnya pada bulan yang agung ini. Meski pada bulan suci ini mereka berpuasa, dengan menahan lapar dan dahaga, tetapi tidak sedikitpun puasa mereka mempengaruhi semangat dan kekuatan mereka untuk mengalahkan musuh-musuh mereka. Sebaliknya, justru pada bulan ini, mereka melipatgandakan aktivitas mereka, karena imbalan pahala yang besar di sisi-Nya. Satu perbuatan wajib di bulan ini, sama nilainya dengan 70 pahala amalan wajib di luar bulan suci. Selain itu, dengan modal ketaatan mereka yang tinggi di bulan ini, maka kemenangan demi kemenangan pun bisa mereka rengkuh. Dua faktor inilah yang membuat sejarah Ramadhan umat Islam dipenuhi dengan berbagai peristiwa peperangan dan kemenangan. Baca entri selengkapnya »