APAKAH HUBUNGAN ANTARA BILL GATES – THE MATRIX – AVATAR DAN MR. PRESIDEN

Kenali Musuhmu- Tsun Zu

(dengan mencantumkan foto Presiden saya di sini bukan berarti SBY adalah musuh yg saya maksud, saya hanya ingin menjelaskan bagaimana saat ini negara kita tercinta, Indonesia benar-benar menjadi boneka Amerika Serikat, dan Presidennya tak lagi memiliki kekuasaan untuk membela rakyat…)

Ini adalah catatan kedua saya tentang Penipuan Isu Pemanasan Global, hubungannya dengan Program Depopulasi dan mengapa Indonesia menjadi salah satu sasaran program ini.

Catatan ini juga saya angkat di buku kedua saya, NOVUS ORDO SECLORUM dan buku keempat yang masih belum kelar INDONESIA INCORPORATED. Lanjutkan membaca “APAKAH HUBUNGAN ANTARA BILL GATES – THE MATRIX – AVATAR DAN MR. PRESIDEN”

Iklan

‘Teror’ Kenaikan TDL dan Cacat Bawaan Demokrasi

Demokrasi telah membajak suara mayoritas rakyat untuk kepentingan segelintir elit yang haus kekuasaan dan rakus kekayaan.

Democracy in both America and Britain is coming underscrutiny these days. Quite apart from the antics of MPs and congressmen, it is said to be sliding towards oligarchy, with increasing overtones of autocracy. Money and its power over technology are making elections unfair. The militaryindustrial complex is as powerful as ever, having adopted “the menace of global terrorism” as its casus belli. Lobbying and corruption are polluting the government process. In a nutshell, democracy is not in good shape. (Simon Jenkins) Lanjutkan membaca “‘Teror’ Kenaikan TDL dan Cacat Bawaan Demokrasi”

Century dan Praktik Kotor Demokrasi

 

Ada dua hal yang sangat dibanggakan oleh pejuang-pejuang Demokrasi dari sistem ini, kebenaran dan suara rakyat. Sistem demokrasi dianggap paling bisa mendekati kebenaran, karena bersumber pada kedaulatan suara rakyat. Suara rakyat dianggap suara Tuhan. Sistem ini juga dianggap paling aspiratif karena selalu mendasarkan kepada suara rakyat. Namun dalam kasus Century, justru dua hal ini dilanggar. Kasus Century dengan secara gamblang menunjukkan kepada kita hakikat buruk system demokrasi dan praktik-praktik kotornya.

Kebenaran berdasarkan fakta yang seharusnya dicari oleh siapapun dan menjadi dasar pertimbangan utama diabaikan begitu saja. Meskipun berbagai bukti dan argumentasi sudah terungkap dalam rapat-rapat Pansus yang melelahkan, tetap saja yang paling menentukan adalah tawar menawar politik. Politik dagang sapi sangat kentara dalam kasus ini. Berbagai cara pun dilakukan untuk memperkuat posisi tawar menawar. Mulai dari bujukan kekuasaan sampai ancaman. Lanjutkan membaca “Century dan Praktik Kotor Demokrasi”

Politisasi Agama

Isu kerudung istri capres dan cawapres segera menyulut perdebatan tentang politisasi agama. Isu ini digunakan untuk menyerang kesolehan lawan politik. Terutama berkembang di kalangan kaum santri di perkotaan maupun daerah pinggiran.Di sisi lain, penggunaan isu kerudung dan agama dianggap sebagai politisasi agama yang berbahaya karena mengancam Negara dan pluralitas, sikap sekterian dan eksklusif.

Kita tentu tidak setuju kalau agama hanya digunakan untuk kepentingan politik jangka pendek memenangkan pemilu. Apalagi kemudian setelah menang pemilu, agama ditinggalkan seperti yang selama ini terjadi. Elit-elit politik cendrung mendadak Islami menjelang pemilu. Mulai dari pakai kopiah – meskipun tidak selalu mencerminkan Islam-, sholat jum’at , sampai kunjungan ke pesantren dan majelis ta’lim. Setelah menang pemilu, wassalam.

Tentu juga sangat naïf, kalau penggunaan kerudung atau kesolehan individual para elit politik dijadikan satu-satunya dasar untuk pilihan politik. Kesolehan ritual para elit sangat penting , namun tidaklah cukup untuk menyelesaikan masalah bangsa dan Negara ini. Sebab, masalah bangsa dan Negara adalah persoalan system, yakni diterapkannya system kapitalisme. Inilah yang menjadi pangkal kerusakan dan kehancuran negara ini. Lanjutkan membaca “Politisasi Agama”

Negara Islam Bukan Ilusi

Negara Islam Bukan Ilusi

Ide lama yang basi menyerang ideology Islam, penegakan syariah Islam, Khilafah kembali muncul. Kelompok liberal Sabtu malam (18/05 ) meluncurkan buku berjudul “Ilusi Negara Islam”: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia. Buku setebal 322 halaman yang diterbitkan atas kerja sama Gerakan Bhineka Tunggal Ika, the Wahid Institute dan Maarif Institute .

Menurut Gus Dur studi dalam buku ini dilakukan dan dipublikasikan untuk membangkitkan kesadaran seluruh komponen bangsa khususnya para elit dan media massa tentang bahaya ideologi dan paham Islam garis keras yang di bawa ke Tanah Air oleh gerakan transnasional Timur Tengah. memperjuangkannya.

Buku ini sendiri patut dipertanyakan baik secara metodelogi, substansi, maupun pengusungnya (lihat keterangan pers Jubir HTI) . Inkonsistensi, kebohongan dan generalisasi kelirupun bertebaran dalam buku ini. Ada aroma kebencian dan kemarahan dari buku ini. Anehnya , Negara Islam dianggap ilusi, namun harus harus diwaspadai secara serius sampai pada tingkat rekomendasi aksi. Padahal ilusi itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya angan-angan , khayalan dan palsu. Lho, kenapa yang angan-angan dan khayalan harus disikapi serius seperti itu ?

Tentu juga bukan kebetulan kalau opini yang ingin dibangun bahwa syariah dan khilafah itu mengancam, sejalan dengan opini yang disampaikan oleh Bush – Sang Pembantai Kaum Muslimin. Pada tanggal 5 September 2006 Presiden George W. Bush mengatakan:“They hope establish a violent political utopia across the Middle East, which they call Caliphate, where all would be ruled according to their hateful ideology”. [“Mereka berangan-angan untuk membangun utopia-politik kekerasan di sepanjang Timur Tengah, yang mereka sebut dengan Khilafah, dimana semua akan diatur berdasar pada ideologi yang penuh kebencian.”]

Lanjutkan membaca “Negara Islam Bukan Ilusi”

Jubir HTI: Manifesto HT Upaya Menyelamatkan Indonesia dari Keterpurukan

Tuesday, 26 May 2009

Wawancara Eksklusif:

Muhammad Ismail Yusanto, Jubir Hizbut Tahrir Indonesia |

Pada 21 Mei lalu HTI meluncurkan buku Manifesto Hizbut Tahrir  untuk Indonesia: Indonesia, Khilafah, dan Penyatuan Kembali Dunia Islam di Wisma Antara Jakarta. Terkait dengan itu maka wartawan mediaumat.com Joko Prasetyo mewawancarai Jubir HTI Muhammad Ismail Yusanto. Berikut petikannya.

Apa latar belakang penerbitan Manifesto yang baru diluncurkan di penghujung Mei ini?

Selama ini umat secara umum sudah mengetahui gagasan syariah dan khilafah. Namun belum banyak orang mengetahui secara persis. Manifesto ini disusun untuk memberikan gambaran secara ringkas mengenai pokok-pokok fikiran HT tentang beberapa hal penting yang menyangkut penataan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Seperti soal politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, komunikasi, pergaulan pria dan wanita, politik luar negeri dan lain sebagainya. Nah, harapannya dengan membaca Manifesto itu umat menjadi tahu apa yang dimaksud oleh HT selama ini.

Tawaran jalan baru apa yang ditawarkan HT dalam Manifesto tersebut?

Kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang islami. Sudah terbukti jalan lama ini telah gagal membawa masyarakat mencapai cita-citanya. Dengan begitu harapannya adalah masyarakat menjadi tahu, kalau ingin besar, membawa negara ini ke arah yang lebih baik, tidak bisa tidak, memang harus menempuh jalan baru yang islami dan tidak lagi menggunakan jalan lama yang sekuler dan bercorak kapitalistik seperti yang berlangsung selama ini.

Lanjutkan membaca “Jubir HTI: Manifesto HT Upaya Menyelamatkan Indonesia dari Keterpurukan”

MENGEMBALIKAN JATI DIRI PARTAI ISLAM

Partai politik di negeri ini khususnya pasca reformasi tumbuh subur. Meskipun mereka mengusung asas dan program kerja yang beragam namun pada faktanya antara satu partai dengan partai lain termasuk yang mengklaim sebagai partai Islam nyaris tidak memiliki yang perbedaan yang mencolok. Terlibat dalam sistem demokrasi, melegeslasi undang-undang, mendukung atau beroposisi kepada pemerintah atas dasar maslahat merupakan kegiatan utama mereka. Tidak heran jika muncul presepsi bahwa bahwa tujuan mereka sekedar berorientasi kekuasaan. Lalu bagaimana sebenarnya gambaran partai politik di dalam Islam? Lanjutkan membaca “MENGEMBALIKAN JATI DIRI PARTAI ISLAM”