Ramadhan: Raihlah Ketakwaan Hakiki, Bukan Ketakwaan Semu!

Sebentar lagi kita memasuki bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan agung. Kedatangannya perlu disambut dengan penuh kegembiraan dan penghormatan yang agung pula. Allah SWT menegaskan bahwa pada bulan Ramadhanlah al-Quran yang Mulia diturunkan (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 185). Di bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yakni Lailatul Qadar (QS al-Qadar [97]: 1). Di bulan ini pula Allah SWT melimpahkan pahala yang berlipat ganda hingga puluhan, ratusan kali lipat, bahkan hingga jumlah yang Allah kehendaki untuk setiap amal salih dibandingkan dengan di bulan-bulan lain. Rasulullah saw. juga bersabda:

«قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانَ شَهْرٌ مَبَارَكٌ اِفْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَ تُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الجَحِيْمِ وَ تُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرُ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ»

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan keberkahan. Allah telah mewajibkan kalian shaum di dalamnya. Di bulan itu pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di bulan itu terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan (HR an-Nasa’i dan al-Baihaqi). Lanjutkan membaca “Ramadhan: Raihlah Ketakwaan Hakiki, Bukan Ketakwaan Semu!”

Pemerintah dan Kaum Liberal Ambil Untung

Banyak kasus besar tertutupi dengan kasus Ahmadiyah. Selain itu, isu pembubaran ormas muncul kembali. 

Tuntutan pembubaran Ahmadiyah bergema puluhan tahun yang lalu. Ibarat pepatah, “anjing menggonggong kafilah berlalu”, tuntutan itu tak pernah dipenuhi pemerintah. Pemerintah baru bereaksi bila sudah ada bentrokan di tengah masyarakat.

Mantan juru bicara Abdurrahman Wahid, Adhie Massardi menyebut, kasus Ahmadiyah sengaja dipelihara oleh pemerintah dan digunakan bila diperlukan. ”Khusus Ahmadiyah memang digantung seperti dipelihara, kalau ada kepentingan baru dikeluarkan. Jadi sengaja didesain untuk mengalihkan isu yang menyudutkan pemerintah,” kata Adhie seperti dikutip inilah.com, Senin (7/2). Ia menyebut, kasus Ahmadiyah ini bisa menutup isu kebohongan SBY yang dilemparkan para tokoh agama, gaji pejabat yang mau naik, mafia pajak Gayus Tambunan, persoalan ekonomi, ancaman demo Mesir menular ke Indonesia, krisis pangan, termasuk rekening gendut Polri yang baru saja diperintahkan dibuka oleh Komisi Informasi Publik (KIP). “Jadi menutupi isu-isu tersebut,” ungkapnya. Lanjutkan membaca “Pemerintah dan Kaum Liberal Ambil Untung”

Ahmadiyah Berulah (Cermin Kegagalan Penguasa Menjamin Rasa Keadilan Umat Islam)

Bentrokan fisik kembali pecah antara masyarakat dengan jemaat Ahmadiyah, terjadi sekitar pukul 10.30 Wib hari Ahad (6/2/2011), di kampung Pasir Peuteuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Akibatnya tiga orang tewas dan sejumlah lainya luka-luka. Menurut beberapa sumber informasi yang bisa dipercaya, bentrokan dipicu oleh sikap dan pernyataan jemaat Ahmadiyah yang provokatif terhadap masyarakat setempat. Kapolri Timur Pradopo menyatakan para penentang Ahmadiyah adalah warga setempat dan sementara Jemaat Ahmadiyah dibantu sekitar 15 orang yang disinyalir datang dari Bekasi (Republika, 7/2) -menurut sebagian media lain, jumlahnya sekitar 20 orang lebih datang dari Jakarta – dengan maksud mengamankan aset Ahmadiyah dan membela jemaat Ahmadiyah sampai titik darah penghabisan.

Peristiwa itu mendapat sorotan banyak pihak, baik pemerintah, pemuka agama, tokoh masyarakat dan LSM bahkan pihak asing. Apalagi ketika peristiwa terjadi, tengah diselenggarakan “World Interfeith Harmony Week” oleh Inter Religious Council (IRC) di Istora Senayan, Jakarta, Ahad (6/2) yang bertujuan mendorong kerukunan dan toleransi serta mengakhiri pertikaian dan kekerasan antar umat beragama.

Lanjutkan membaca “Ahmadiyah Berulah (Cermin Kegagalan Penguasa Menjamin Rasa Keadilan Umat Islam)”