Kegagalan Israel di Gaza

Setelah 22 hari menggempur Jalur Gaza, Israel secara sepihak akhirnya menyatakan gencatan senjata. Meski demikian, pasukan Zionis masih melakukan serangan di berbagai titik di Gaza dan tentara-tentara Zionis itu masih belum mampu menguasai kota Gaza seluruhnya.

Gencatan senjata dari pihak Israel, diumumkan oleh Perdana Menteri Israel Ehud Olmert dalam keterangan persnya di Tel Aviv. Ia mengklaim bahwa Israel telah mencapai target agresinya ke Jalur Gaza yang telah ditetapkan oleh kabinetnya.

Israel mulai memberlakukan gencatan senjata pada Minggu (18/1) pukul 02.00 dinihari waktu setempat. Namun dalam gencatan senjata itu, Israel tidak menyinggung masalah penarikan pasukannya dari Jalur Gaza dan pencabutan blokade di Gaza seperti tuntutan Hamas. Israel juga mengancam akan kembali menyerang Gaza jika pejuang Palestina menembakkan roketnya.

Hamas sendiri berpandangan ini bukan gencatan senjata sejati. Osama Hamdan, pejabat Hamas di Lebanon mengatakan ini adalah pernyataan kegagalan operasi militer Israel. “Satu-satunya keberhasilan mereka adalah membunuh warga sipil dan mereka tidak berhasil menghancurkan sasaran yang mereka inginkan,” ujar Hamdan.

“Sasaran mereka adalah mengubah situasi di Gaza, menghancurkan Hamas di Gaza dan menghentikan serangan roket. Semua itu tidak tecapai. Kemarin 39 roket ditembakkan ke arah pemukiman Yahudi.”

Sejak awal memang apa yang menjadi target sesungguhnya Israel menyerang Gaza masih simpang siur. Kalau tujuannya adalah untuk menghancurkan Hamas maka bisa disebut Israel gagal. Pernyatan gencatan senjata secara sepihak oleh Israel dan penegasan Hamas itu, membuktikan bahwa Israel tidak mampu menumbangkan Hamas, apalagi sampai hari ke-23 pasukan Zionis juga masih belum bisa menguasai Gaza sepenuhnya. Tampaknya, pemerintah Israel takut, kegagalan mengalahkan Hizbutllah di Lebanon Selatan terulang kembali.

Pengakuan kegagalan Israel juga muncul dari kepala intelejen dalam negeri Israel (Shin Bet), Yuval Diskin mengatakan, pasukan Israel tidak berhasil membumihanguskan seluruh terowongan-terowongan yang dibangun Hamas. Usai rapat kabinet hari Minggu kemarin, Diskin mengakui bahwa Tel Aviv gagal mencapai tujuan perangnya ke Jalur Gaza dan gagal melucuti persenjataan Hamas. Karena terowongan-terowongan yang dibangun Hamas, yang diklaim Israel sudah berhasil dihancurkan, masih ada. Diskin juga menyatakan, Hamas akan mampu memulihkan persenjataannya dalam jangka waktu singkat.

Begitu juga dengan Partai Likud, partai oposisi pemerintah Israe,  juga menilai Israel tidak berhasil mencapai tujuan perangnya ke Jalur Gaza.Anggota Parlemen Partai Likud, dan pakar di bidang hukum, Yisrael Katz, menyatakan agresi militer Israel ke Gaza, mengalami kegagalan. Israel tidak mencapai  tujuannya. Dan,  menimbulkan ratusan korban dikalangan militernya.

Kemungkinan genjatan senjata sepihak ini bisa disebut sebagai ‘exit strategi’ Israel untuk keluar dari medan pertempuran tanpa tanpa kehilangan muka. Untuk itu Israel menunjukkan seolah-olah tindakannya adalah hasil perundingan dengan Mesir dan Amerika Serikat. Dengan genjatan senjata ini juga seolah-olah Israel mematuhi resolusi PBB 1860 yang meminta kedua belah pihak melakukan genjatan senjata.

Demikian juga kalau target serangan barbar Israel ke Gaza adalah untuk menguatkan posisi Mahmud Abbas dengan Fatahnya untuk menggantikan posisi Hamas di Gaza, juga bisa disebut gagal. Yang terjadi malah sebaliknya, dukungan rakyat Palestina dan dunia Islam kepada Hamas semakin menguat. Sementara Abbas malah semakin kehilangan pamor, karena hanya diam dan seolah menyetujui pembantaian rakyatnya sendiri di Gaza.

Sebuah polling yang dilakukan Pers TV menunjukkan bahwa mayoritas responden meyakini Israel tidak akan bisa menghancurkan Hamas. Dari 26.385 responden, 76 persen menyatakan Hamas akan mengalahkan Israel dalam perang darat. Selain itu, 35 persen responden menyatakan agresi brutal Israel ke Jalur Gaza, akan menyatukan umat Islam dan umat Islam akan memberikan bantuan pada rakyat Palestin

Perang biadab di Gaza ini juga malah membuat Israel semakin kehilangan posisi terhormat di dunia internasional. Israel kalah dari segi diplomasi dan opini internasional, meskipun tentu saja Israel tidak begitu peduli hal itu. Dunia internasional melihat bagaimana negara Zionis ini melakukan pembunuhan massal (genocide) yang sadis dengan korban kemungkinan bisa mencapai angka 2000 orang, sebagian besar diantaranya adalah anak-anak. Wajah Israel semakin tercoreng di mata dunia internasional terutama dari kalangan rakyat . Meskipun tentu saja sikap pemerintah Amerika Serikat, Inggris dan sekutunya tetap teguh membela Israel.

Dua negara Amerika latin penentang utama Amerika Serikat, Bolivia dan Veneuzela tidak hanya memutus hubungan dipolomatik dengan Israel tapi mengusir diplomat Israel dari negara itu. “Pengadilan Nurnberg akan menunggu Anda di masa datang untuk mengadili anda sebagai penjahat perang,” kata Duta Besar dari Venezuela, Julio Escalona, pada tanggal 7 Januari kepada orang-orang Israel. Tidak hanya itu Vatikan yang biasanya menahan diri mengecam Israel secara terbuka, kali ini bicara cukup keras dengan menyebut kondisi Gaza sekarang mirip kamp konsentrasi dimasa Nazi.

Demontrasi menentang kekejian Israel terjadi dimana-mana. Bukan hanya di dunia Islam tapi juga di Barat. Puluhan ribu orang turun di pusat-pusat kota di Eropa untuk menentang kebiadaban Israel. Sementara hampir seluruh dunia Islam marak terjadi demontrasi menentang kebiadaban Israel , sikap diam penguasa Islam dan Amerika Serikat yang tetap setia membela Israel.

Sejumlah wartawan dan komentator menunjukkan kritiknya secara terang-terangan. Beberapa contohnya adalah sebagai berikut: Profesor Avi Shlaim, menulis di The Guardian edisi 7 Jan 2009, dengan mengatakan bahwa Israel “telah menjadi sebuah negara preman (rogue state), yang dipimpin oleh sejumlah pemimpin yang sama sekali tidak bermoral.” Shlaim, yang merupakan mantan pejabat tentara Israel, melanjutkan penjelasan atas istilah yang dia pakai itu.

“Sebuah negara preman (rogue state) biasanya melanggar hukum internasional, memiliki senjata pemusnah masal dan melakukan praktek terorisme – menggunakan kekerasan terhadap warga sipil untuk tujuan politik. Israel memenuhi ketiga kriteria itu,” ujarnya.(Farid Wadjdi)

Sumber : http://www.hizbut-tahrir.or.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s