Hadiah Sepatu Bush

DELAPAN tahun menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat jelas sebuah kebanggaan bagi Presiden George W Bush. Namun, di akhir masa jabatannya, Presiden Bush justru meninggalkan jejak yang mengecewakan dan memalukan.
Jejak paling nyata ialah kekalahan partai yang dulu mengantar Bush ke kursi di Gedung Putih, Partai Republik, dari pesaingnya, Partai Demokrat. Partai Republik kalah, baik dalam pemilihan presiden maupun pemilu parlemen. Kandidat calon presiden dari Partai Republik, John McCain, kalah telak dari calon Partai Demokrat, Barrack Obama.
Lebih dari itu, Bush mewariskan perekonomian Amerika Serikat yang sedang mengalami resesi. Krisis ekonomi tersebut bermula dari membengkaknya kredit macet di sektor properti, yang kemudian berimbas ke sektor-sektor lainnya.
Sejumlah lembaga keuangan dan asuransi AS pun bangkrut. Begitu juga perusahaan perbankan dan otomotif raksasa AS ikut limbung. Akibatnya, hingga November lalu, sudah setengah juta pekerja terkena PHK. Itu sebabnya, lembaga internasional seperti IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS tahun ini hanya sekitar 1,3% dan minus 0,7% pada 2009.
Kebangkrutan ekonomi AS mau tidak mau telah menggegerkan dunia. Banyak negara ikut terbawa arus resesi. Indonesia juga telah merasakan dampak dari krisis ekonomi yang melanda AS. Harga saham di bursa jatuh dan nilai tukar rupiah melemah.
Tidak cuma remuknya ekonomi di dalam negeri yang diwariskan Bush. Di pentas internasional pun pemerintahan Bush meninggalkan sejarah buruk. Perang Irak yang sudah menghabiskan dana US$500 miliar dan ikut mendorong kebangkrutan ekonomi AS ternyata tidak juga membuahkan kestabilan di ‘Negeri Seribu Satu Malam’ itu.
Bahkan, ketika mengadakan lawatan perpisahan di Baghdad, Irak, Minggu (14/12) lalu, Bush mengalami insiden ringan tapi memalukan. Presiden Bush dilempari sepatu oleh seorang jurnalis saat jumpa pers bersama PM Irak Nuri al-Maliki.
Bagi seorang presiden dari negara besar, insiden ringan itu jelas sebuah tamparan yang memalukan. Itu penghinaan yang superberat. Di tengah ketatnya pengamanan bagi seorang presiden AS, insiden tersebut masih bisa terjadi.
Peristiwa itu jelas mewakili ungkapan kekecewaan mendalam rakyat Irak. Oleh karena itu, sang pelempar sepatu, Muntazer al-Zaidi, dianggap pahlawan. Ribuan warga Irak turun ke jalan menuntut pembebasan Zaidi, yang kini ditahan aparat keamanan Irak.
Janji Bush menciptakan pemerintahan yang demokratis dan membangkitkan rakyat Irak dari keterpurukan ternyata masih jauh dari kenyataan. Yang terjadi justru sebaliknya. Irak kini tengah menghadapi krisis politik, ekonomi, dan sosial yang dahsyat.
Konflik horizontal dan vertikal terus-menerus terjadi. Kekerasan yang berujung kepada kematian tidak pernah berhenti. Setiap jam tidak kurang belasan orang tewas di Irak. Semua fakta itu muncul setelah Presiden Bush melancarkan invasi dan agresi ke Irak pada 2003.
Itu sebabnya, di ujung masa pemerintahannya, Bush telah mewariskan sejarah dan kinerja yang buruk, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Boleh jadi, insiden pelemparan sepatu itu cermin perlawanan terhadap keangkuhan Bush yang lebih mendengarkan suara dari langit ketimbang suara dari rakyatnya maupun warga dunia.

Sumber : http://mediaindonesia.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s