Apa Sebenarnya motif di balik penurunan Harga BBM

PEMERINTAH kembali menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mulai berlaku dini hari tadi. Harga premium turun lagi Rp500 per liter menjadi Rp5.000 per liter, yang berarti hanya dalam dua pekan, premium turun dua kali.

Kali ini bukan hanya harga premium yang turun. Harga solar pun diturunkan menjadi Rp4.800 per liter. Harga solar tetap dibikin lebih murah daripada harga bensin, berbeda dengan wacana yang sebelumnya sempat dilontarkan bahwa harga solar akan dibuat lebih mahal daripada harga premium.

Semua itu adalah keputusan yang manis, yang menyenangkan rakyat banyak. Pemerintah melangkah konsisten, yaitu tempo hari menaikkan harga BBM karena harga minyak mentah dunia naik dan sekarang menurunkan harga BBM karena harga minyak mentah dunia turun.

Pemerintah juga belajar dari keputusan sebelumnya yang sengaja membuat rentang waktu yang panjang antara waktu diumumkannya penurunan harga dan waktu dilaksanakannya keputusan sehingga memberi kesempatan terjadinya pembangkangan yang merugikan rakyat. Pada hari pelaksanaan keputusan, pompa bensin tutup, yang buka pun tidak menjualnya. Sekarang pengumuman keputusan langsung diikuti dengan eksekusi.

Yang juga istimewa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri yang mengumumkan keputusan penurunan harga BBM itu di Istana Presiden. Padahal, waktu menaikkan harga BBM pada Mei lalu, yang mengumumkannya adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral di Kantor Menteri Keuangan.

Tentu, merupakan kewenangan presiden untuk menugasi, tepatnya memberi perintah kepada pembantunya yang disebut menteri itu, untuk mengumumkan keputusan pemerintah sesuai dengan ruang lingkup tugas dan tanggung jawab sang menteri. Adalah hak presiden pula untuk memilih momentum yang manis untuk mengumumkan sendiri keputusan pemerintah yang diambilnya.

Suka atau tidak suka, itulah benefit bagi siapa pun yang menjadi incumbent. Senang atau tidak senang, adalah sah belaka incumbent melakukannya. Benefit yang halal yang datang menjelang pemilu presiden!

Sebaliknya, incumbent jangan heran bila muncul penilaian oposisi bahwa presiden hanya berani mengumumkan perkara good news, yang manis. Adapun bad news, perkara yang pahit, dilimpahkan kepada menteri. Hal ihwal memang bergantung kepada sudut pandang, dan sudah tentu tidak dapat dilepaskan dari kepentingan masing-masing. Dan di situlah indahnya demokrasi.

Terlepas dari siapa pun yang mengumumkannya, keputusan menurunkan harga BBM akan berpengaruh kepada perekonomian nasional. Ia kiranya dapat mengurangi ongkos ekonomi dan juga lebih menekan lagi inflasi sehingga inflasi pada November lalu, yang merupakan angka terendah sepanjang 2008, akan lebih signifikan lagi turun pada awal 2009. Akibatnya kemudian, Bank Indonesia lebih berani lagi menurunkan suku bunga acuan atau BI rate bahkan sampai 8% sehingga bunga kredit pun akan turun mengikutinya.

Akan tetapi, tidak boleh ada petinggi negeri yang mengira badai telah berlalu. Ekonomi dunia tahun depan diperkirakan lebih buruk lagi. Pertumbuhan ekonomi merosot dari 3,0% menjadi 2,2%. Negara sekelas Singapura bahkan superrealistis mematok pertumbuhan negatif.
Bagaimana dengan Indonesia? Pertumbuhan ekonomi agaknya harus dikoreksi menjadi 4%. Anggaran negara harus berani dibuat defisit sampai 3%. Pendapatan pajak tidak mencapai target. Akibatnya, barangkali pemerintah harus berani meminjam kembali dari IMF.

Semua itu tidak enak. Celakanya, pemilu yang sebentar lagi datang bukanlah saat yang tepat bagi yang sedang berkuasa dan ingin berkuasa kembali untuk mengambil keputusan-keputusan yang pahit. Padahal, itulah kebajikan yang harus dilakukan seorang negarawan.

Satu pemikiran pada “Apa Sebenarnya motif di balik penurunan Harga BBM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s