Refleksi Akhir Tahun 2008

Selamatkan Indonesia Dengan Syariah – Menuju Indonesia Lebih Baik

Tahun 2008 sebentar lagi akan berakhir, dan fajar tahun 2009 segera menyongsong. Banyak peristiwa ekonomi, politik, sosial – budaya dan sebagainya yang telah terjadi di sepanjang tahun ini. Terhadap sejumlah isu terhangat di sepanjang tahun 2008, Hizbut Tahrir Indonesia memberikan catatan sebagai berikut:


1. EKONOMI INDONESIA:

Di bawah Bayang Kebobrokan Kapitalisme, Kehidupan Rakyat Makin Sengsara

Keadaan ekonomi Indonesia di penghujung tahun 2008 diakhiri dengan rasa duka akibat terpaan krisis finansial global. Ini konsekuensi yang tidak bisa dielakkan mengingat sistem ekonomi Indonesia, khsususnya di bidang keuangan telah menjadi bagian dari sistem ekonomi Kapitalis global.

Secara teknis, krisis finansial global diawali oleh kredit macet di sektor perumahan di AS. Dampaknya telah membangkrutkan sejumlah lembaga keuangan besar di AS, antara lain Lehman Brother yang meninggalkan utang lebih dari 613 milliar dollar dan mempurukkan harga saham. Bukan hanya di AS, tapi juga di Eropa dan Asia, termasuk Indonesia. Tapi secara fundamental, krisis finansial global ini dipicu oleh 4 faktor utama, yakni sistem keuangan ribawi, perdagangan saham dan bursa komoditas yang penuh dengan spekulasi serta penggunaan uang kertas, khususnya dollar sebagai denominasi utama. Sistem keuangan ribawi memang telah lama ada, tapi sistem ini menjadi lebih ganas sejak Kapitalisme naik daun.

Liberalisme, inti utama dari paham Kapitalisme, membolehkan individu untuk mengembangkan kepemilikan di aneka bidang tanpa batas. Tentu saja itu tidak mungkin dilakukan sendiri. Harus dilakukan bersama orang lain. Dibentuklah sistem perseroan, dimana setiap pesero memiliki saham yang merupakan cerminan kepemilikan dari aset riil perusahaan itu dengan harapan di akhir tahun mendapatkan deviden. Dengan bantuan kredit dari perbankan, usaha perseroan itu semakin besar karena modal yang dimiliki semakin besar. Sementara, bank diuntungkan karena mendapatkan bunga dari perusahaan yang sebagiannya diberikan lagi ke nasabah penyimpan uang.

Dengan semangat untuk bisa mendapat untung lebih besar, saham-saham itu kemudian dibuat menjadi lebih liquid, artinya dapat diperdagangkan. Bila orang butuh uang tunai, tidak lagi harus menunggu dan berharap pada dividen tahunan, namun cukup mengharap pada kenaikan harga sahamnya. Dari sini muncul pasar modal (bursa saham).

Maka, bila ada dana lebih (excess fund), orang punya banyak pilihan. Bisa masukkan ke bank, atau beli saham atau beli dollar. Tapi bila suku bunga bank rendah, orang akan lari ke dollar atau saham sehingga indeks bursa naik. Tapi untuk mencegah spekulasi terhadap dollar, khususnya ketika terjadi gejolak nilai tukar, suku bunga dinaikkan. Orang akan lari ke bank dengan menjual saham, sehingga indeks saham turun. Biasanya kebijakan ini ditempuh untuk menghindari larinya modal ke luar negeri ketika pasar modal sedang lesu atau tidak percaya kepada sistem, misalnya karena gonjang-ganjing politik.

Sistem bursa saham (yang memperdagangkan surat-surat saham) ini lalu ditiru pasar komoditas. Muncullah bursa komoditas berjangka, dimana yang diperdagangkan adalah surat komitmen pengiriman komoditas. Transaksi di bursa komoditas inilah yang mendorong kenaikan harga komoditas seperti minyak yang tidak lagi rasional karena tidak lagi berhubungan dengan mekanisme suplly and demand. Misalnya, harga minyak mentah pernah melambung hingga mencapai 147 US$/barrel, yang membuat pemerintah di berbagai negara termasuk Indonesia kesulitan mengatur anggaran. Lanjutkan membaca “Refleksi Akhir Tahun 2008”

Iklan

Halqah Islam & Peradaban Ed. 4: Masa Depan Politik dan Ekonomi Indonesia

Pembicara:
Dr. Drajad Wibowo
Dr. Bima Arya S.
Farid Wadji

Kamis, 18 Desember 2008
Pukul 13.30 – 16.00 WIB
La Monte Function Hall
Kawasan Sarinah MH Thamrin Jakarta Pusat

Kontak Person:
Lazuardi (081805063590)
Rikza (081384498159)

Apa Sebenarnya motif di balik penurunan Harga BBM

PEMERINTAH kembali menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mulai berlaku dini hari tadi. Harga premium turun lagi Rp500 per liter menjadi Rp5.000 per liter, yang berarti hanya dalam dua pekan, premium turun dua kali.

Kali ini bukan hanya harga premium yang turun. Harga solar pun diturunkan menjadi Rp4.800 per liter. Harga solar tetap dibikin lebih murah daripada harga bensin, berbeda dengan wacana yang sebelumnya sempat dilontarkan bahwa harga solar akan dibuat lebih mahal daripada harga premium.

Semua itu adalah keputusan yang manis, yang menyenangkan rakyat banyak. Pemerintah melangkah konsisten, yaitu tempo hari menaikkan harga BBM karena harga minyak mentah dunia naik dan sekarang menurunkan harga BBM karena harga minyak mentah dunia turun.

Pemerintah juga belajar dari keputusan sebelumnya yang sengaja membuat rentang waktu yang panjang antara waktu diumumkannya penurunan harga dan waktu dilaksanakannya keputusan sehingga memberi kesempatan terjadinya pembangkangan yang merugikan rakyat. Pada hari pelaksanaan keputusan, pompa bensin tutup, yang buka pun tidak menjualnya. Sekarang pengumuman keputusan langsung diikuti dengan eksekusi.

Yang juga istimewa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri yang mengumumkan keputusan penurunan harga BBM itu di Istana Presiden. Padahal, waktu menaikkan harga BBM pada Mei lalu, yang mengumumkannya adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral di Kantor Menteri Keuangan.
Lanjutkan membaca “Apa Sebenarnya motif di balik penurunan Harga BBM”

Ibadah Yang Menyisakan Ironi

Tahun 1429 H ini, diperkirakan jumlah jamaah haji dari seluruh dunia sebanyak tiga juta. Sejak tanggal 8 Dzulhijjah, mereka sudah mulai berdatangan ke Mina untuk melakukan persiapan haji (tarwiyah). Di situlah, 14 abad yang lalu, Nabi bersama 100 ribu sahabat bermalam (mabit) dengan mengenakan pakaian ihram. Tepat di tengah masjid Khaif itu terdapat kubah putih. Di situlah, tempat Nabi ketika itu melakukan shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ hingga Shubuh ketika singgah di Mina. Subhanallah, tempat bersejarah itu hingga hingga kini tidak dilupakan oleh para jamaah haji. Masjid Khaif yang begitu besar itu pun masih tidak mampu menampung jamaah yang ingin melakukan tarwiyah di sana.

Dari tempat itulah, Nabi bersama para sahabat ketika itu bertolak ke Arafah, tepat pada tanggal 9 pagi, setelah terbitnya matahari. Sesampainya di Namirah, beliau singgah, tidur siang sejenak, mandi sebelum wukuf, lalu shalat Dzuhur dan Ashar berjamaah dengan jamak qashar. Di tempat itulah, Nabi menyampaikan Khutbah Wada’ yang sangat populer. Dalam khutbahnya, baginda menitahkan, bahwa darah, harta dan kehormatan umat Islam itu haram dinodai, laksana haramnya menodai hari, bulan dan tanah Haram. Baginda juga menitahkan dihapuskannya tradisi Jahiliyah dan riba, serta kewajiban kaum Muslim untuk memuliakan wanita, kembali kepada Kitab dan Sunah baginda saw. Itulah pesan penting baginda saw. Setelah itu, baginda pun wukuf di Arafah bersama para sahabat, tepat di lereng Jabal Rahmah, di tengah padang, tanpa tenda. Itulah al-mashad al-a’dham, pemandangan agung yang luar biasa. Pemandangan manusia dari berbagai penjuru dunia, dari berbagai suku, bangsa dan warna kulit, semuanya berkumpul di tengah padang, di tengah terik matahari, berpakaian ihram, putih-putih. Semuanya menyatu dalam satu tujuan, pikiran, perasaan dan terikat dengan satu aturan, hukum Allah SWT. Inilah pemandangan yang dibanggakan oleh Allah kepada para malaikat-Nya, seraya berfirman dalam hadits Qudsi:

“Hamba-hamba-Ku telah datang kepada-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu dari berbagai penjuru untuk mengharap rahmat dan ampunan-Ku. Kalaupun dosa-dosa mereka sebanyak bilangan pasir, atau sebanyak tetesan hujan, atau sebanyak buih di lautan, pasti akan Aku ampuni.” Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku itu, “Kalian telah diampuni, juga orang-orang yang kalian syafa’ati.”

Setelah matahari tenggelam, Nabi pun meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah. Di tempat ini, baginda bermalam (mabit); melakukan shalat Maghrib dan Isya’ dengan jamak qashar. Setelah itu, baginda pun mencari batu-batu kecil untuk melakukan jumrah di Mina. Setelah matahari terbit dan memasuki waktu Dhuha, baginda pun berangkat ke Mina untuk melakukan jumrah ‘aqabah, dilanjutkan dengan menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut (tahallul) di Mina. Kemudian baginda berangkat ke Makkah untuk melakukan thawaf Ifadhah dan sai di Baitullah. Begitu usai, baginda pun kembali lagi ke Mina. Di Mina, baginda bermalam mulai tanggal 10, 11 dan 12 Dzulhijjah. Baginda pun meninggalkan Mina pada tanggal 13 Dzulhijjah, setelah melakukan jumrah di hari ketiga tasyrik. Itulah penggalan riwayat tentang prosesi haji Rasulullah saw. Lanjutkan membaca “Ibadah Yang Menyisakan Ironi”