Presiden Jangan Setengah Hati

PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium akan diturunkan lagi bersamaan dengan diturunkannya harga solar bulan depan. Kepastian itu melegakan.

Melegakan karena pemerintah masih menggunakan akal sehat dalam menerapkan mekanisme pasar bebas di sektor energi. Akal sehat itu ialah mengakui kenyataan harga minyak mentah di pasar dunia yang menjadi patokan harga BBM terus menurun akhir-akhir ini dan cenderung stabil pada kisaran US$40 hingga US$50 per barel. Karena harga bahan bakunya turun, konsekuensi logisnya tentu saja harga premium dan solar itu juga harus turun. Sama logikanya dengan logika pemerintah ketika memutuskan menaikkan harga premium adalah akibat kenaikan harga minyak mentah dunia.

Yang belum pasti berapa besar pemerintah akan menurunkan harga premium dan solar serta mengapa angka itu yang dipilih.

Memang sudah ada informasi setengah pasti dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta bahwa harga premium mungkin akan turun Rp1.000 dari Rp5.500 menjadi Rp4.500 per liter. Harga solar juga akan turun. Akan tetapi, harganya lebih tinggi daripada harga premium.

Terlepas dari banyaknya penilaian kritis atas besaran angka penurunan harga premium dan solar tersebut, keputusan pemerintah kali ini tetap harus dihargai dan disambut gembira.

Adalah fakta bahwa pukulan terhadap pelaku ekonomi dan daya beli masyarakat akibat penaikan harga premium dari Rp4.500 menjadi Rp6.000 per liter pada Mei lalu masih dirasakan hingga kini. Pemerintah memang telah menurunkan harga premium menjadi Rp5.500 per liter mulai 1 Desember lalu, tetapi terlalu kecil sehingga tidak banyak dampaknya.

Menurunkan harga premium dan solar ke posisi jauh lebih rendah daripada harga sekarang jelas mengurangi beban sektor riil dan beban rakyat yang terus bertambah akibat di-PHK karena dampak krisis global.

Hal itu sekaligus juga akan mendinginkan mesin ekonomi yang sudah semakin kepanasan dan kepayahan. Karena itu, pemerintah harus lebih berani mengambil keputusan menurunkan harga BBM yang besarnya signifikan.

Rencana pemerintah menurunkan harga premium menjadi Rp4.500 per liter pada 1 Januari 2009 belum sepenuhnya memenuhi harapan publik. Publik telah telanjur tahu bahwa harga keekonomian premium sejatinya hanyalah Rp4.200 per liter.

Publik juga tidak bisa memahami argumentasi pemerintah untuk membuat harga solar lebih mahal daripada harga premium. Telah tertanam persepsi bahwa menggunakan mobil berbahan bakar solar lebih irit karena selama ini harga solar lebih murah ketimbang bensin. Selain itu, agaknya pemerintah lupa, banyak pengguna solar merupakan industri padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja serta angkutan umum yang dipergunakan rakyat banyak.

Presiden Yudhoyono tidak boleh setengah hati dalam mengambil keputusan yang prorakyat. Pemerintah juga harus mengawal keputusannya agar tidak terulang kembali bahan bakar minyak menghilang begitu harga diturunkan.

Harga BBM turun, tetapi rakyat sulit mendapatkannya harus dibaca sebagai sebuah pembangkangan dan pelecehan terhadap keputusan pemerintah. Itu tidak baik buat wibawa pemerintah.

Sumber : http://mediaindonesia.com/

Iklan

Satu pemikiran pada “Presiden Jangan Setengah Hati

  1. Kalaupun itu terjadi, tidak lebih sekedar manuver politik agar Pemilu nanti SBY mendapatkan dukungan suara dari rakyat karena seolah-olah sudah membuat keputusan yang pro rakyat.

    Setelah menang, dengan 1001 alasan harga dengan mudah akan dinaikan lagi. Jadi jangan biarkan diri anda tertipu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s