-At-Tawadhu’-

alahyohibok.gif

Sikap merendah tanpa menghinakan diri- merupakan sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan seluruh makhluk-Nya. Sudahka h kita memilikinya?

Merendahkan diri (tawadhu’) adalah sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan juga di hadapan seluruh makhluk-Nya. Setiap orang mencintai sifat ini sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mencintainya. Sifat terpuji ini mencakup dan mengandung banyak sifat terpuji lainnya.

Tawadhu’ adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Artinya, janganlah kamu memandang dirimu berada di atas semua orang. Atau engkau menganggap semua orang membutuhkan dirimu.

Lawan dari sifat tawadhu’ adalah takabbur (sombong), sifat yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah mendefinisikan sombong dengan sabdanya:
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.” (Shahih, HR. Muslim no. 91 dari hadits Abdullah bin Mas’ud z)

Jika anda mengangkat kepala di hadapan kebenaran baik dalam rangka menolaknya, atau mengingkarinya berarti anda belum tawadhu’ dan anda memiliki benih sifat sombong.

Tahukah anda apa yang diperbuat Allah subhanahu wa ta’ala terhadap Iblis yang terkutuk? Dan apa yang diperbuat Allah kepada Fir’aun dan tentara-tentaranya? Kepada Qarun dengan semua anak buah dan hartanya? Dan kepada seluruh penentang para Rasul Allah? Mereka semua dibinasakan Allah subhanahu wa ta’ala karena tidak memiliki sikap tawadhu’ dan sebaliknya justru menyombongkan dirinya.

Tawadhu’ di Hadapan Kebenaran

Menerima dan tunduk di hadapan kebenaran sebagai perwujudan tawadhu’ adalah sifat terpuji yang akan mengangkat derajat seseorang bahkan mengangkat derajat suatu kaum dan akan menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)

Fudhail bin Iyadh t (seorang ulama generasi tabiin) ditanya tentang tawadhu’, beliau menjawab: “Ketundukan kepada kebenaran dan memasrahkan diri kepadanya serta menerima dari siapapun yang mengucapkannya.” (Madarijus Salikin, 2/329). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidak akan berkurang harta yang dishadaqahkan dan Allah tidak akan menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan akan Allah angkat derajatnya.” (Shahih, HR. Muslim no. 556 dari shahabat Abu Hurairah z)

Ibnul Qayyim t dalam kitab Madarijus Salikin (2/333) berkata: “Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang dimusuhinya maka kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Allah karena Allah adalah Al-Haq, ucapannya haq, agamanya haq. Al-Haq datangnya dari Allah dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran berarti dia menolak segala yang datang dari Allah dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.”

Perintah untuk Tawadhu’

Dalam pembahasan masalah akhlak, kita selalu terkait dan bersandar kepada firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasul teladan yang baik.” (Al-Ahzab: 21)

Dalam hal ini banyak ayat yang memerintahkan kepada beliau untuk tawadhu’, tentu juga perintah tersebut untuk umatnya dalam rangka meneladani beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang beriman.” (Asy-Syu’ara: 215).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berbuat zhalim atas yang lain.” (Shahih, HR Muslim no. 2588).

Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita bahwa tawadhu’ itu sebagai sebab tersebarnya persatuan dan persamaan derajat, keadilan dan kebaikan di tengah-tengah manusia sebagaimana sifat sombong akan melahirkan keangkuhan yang mengakibatkan memperlakukan orang lain dengan kesombongan.

Macam-macam Tawadhu’

Telah dibahas oleh para ulama sifat tawadhu’ ini dalam karya-karya mereka, baik dalam bentuk penggabungan dengan pembahasan yang lain atau menyendirikan pembahasannya. Di antara mereka ada yang membagi tawadhu’ menjadi dua:
1. Tawadhu’ yang terpuji yaitu ke-tawadhu’-an seseorang kepada Allah dan tidak mengangkat diri di hadapan hamba-hamba Allah.
2. Tawadhu’ yang dibenci yaitu tawadhu’-nya seseorang kepada pemilik dunia karena menginginkan dunia yang ada di sisinya. (Bahjatun Nazhirin, 1/657).

Wallahu a’lam. 

Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi

——————————————-

Yaitu sikap merendahkan dan menghinakan diri kepada yang berhak yaitu ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi, juga kepada orang-orang yang ALLAH SWT perintahkan kita untuk bersikap tawadhu’ pada mereka seperti kepada para Nabi SAW, para Imam dan qiyadah, para hakim, para ulama, dan orangtua.

Adapun bersikap tawadhu’ pada semua makhluq maka hukum asalnya bahwa perbuatan tersebut terpuji jika diniatkan untuk mencari ridha ALLAH SWT. Sabda Nabi SAW: “Tidak akan pernah berkurang harta karena bersedekah, dan tidaklah seorang hamba bersikap pemaaf kecuali akan ditambah kemuliannya oleh ALLAH SWT, dan tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu’ kecuali akan diangkat derajatnya oleh ALLAH SWT.” [2] Sedangkan bersikap tawadhu’ pada ahli dunia dan orang zhalim maka hal tersebut bertentangan dengan sikap ‘izzah.

Tawadhu’ lebih umum dari khusyu’, karena ia mencakup pada sesama hamba dan pada Sang Pemilik hamba, sedangkan khusyu’ tidak boleh dilakukan kecuali hanya pada Pemilik hamba saja.

Berkata al-Fudhail rahimahullah: “Tawadhu’ adalah sikap menerima kebenaran dan melaksanakannya dan menerima kebenaran tersebut dari siapapun datangnya.”

Berkata ‘Atha: “Yaitu sikap menerima kebenaran dari manapun datangnya, sikap ‘izzah adalah bagian dari tawadhu’ juga, tetapi sikap sombong bukan bagian dari tawadhu’, barangsiapa mencari-cari kemungkinan bersikap sombong dari tawadhu’ sama seperti seorang yang mencoba mencari air di dalam api.”

Berkata seorang ‘alim saat menasihati putranya: “Wahai ananda, hiasilah ketinggianmu dengan sikap tawadhu’, sikap kemuliaan dengan agama dan ambillah sifat pemaaf dari ALLAH SWT dengan bersikap pemaaf juga pada semua manusia.”

Seorang yang mutawadhi’ yaitu seorang yang tumbuh dalam dirinya kerendahan dan ketinggian semata-mata karena keimanannya pada ALLAH SWT, yang sama sekali tidak terpengaruh oleh kekuatan, harga diri, harta dan potensi yang dimilikinya atau orang lain. Sebab kemuliaan dan kehinaannya semata-mata karena pengetahuannya yang luas tentang hubungan dirinya dan seluruh makhluq kepada ALLAH yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, ..dan DIA adalah Maha Berkuasa di atas semua hamba-NYA.. [3] Sehingga ia merasa tidak akan mampu keluar dari hukuman dan kekuasaan ALLAH SWT dan kerajaan-NYA .. Wahai semua Jin dan manusia seandainya kalian mampu menembus penjuru-penjuru langit dan bumi, maka tembuslah, tetapi ketahuilah bahwa kalian tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan ALLAH .. [4]

Sehingga ia sangat menyadari kebutuhannya dan kefakirannya terhadap ALLAH SWT dan pengampunan-NYA saat ia membaca ..Sesungguhnya ALLAH-lah yang Maha Kaya dan kalian semua adalah para fuqara.. [5] Dan iapun menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari ALLAH SWT ..Dan tidaklah semua nikmat yang sampai kepadamu kecuali dari ALLAH .. Sehingga karena semua pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya sikap sombong dan merasa lebih, karena telah meresapnya keyakinan yang menghunjam ke dalam hatinya, sehingga Pemiliknya memujinya ..Dan hamba-hamba ar-Rahman itu ialah yang berjalan dimuka bumi ini dengan merendahkan diri, dan jika ia ditegur oleh orang-orang jahil maka ia mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.. [6] Berkata al-Hasan: Seorang ulama adalah lemah lembut, berkata Muhammad bin al-Hanafiyyah: Para sahabat nabi SAW itu adalah orang yang jika dicaci diri mereka maka mereka menjawab dengan lemah lembut, sehingga berfirman ALLAH SWT memuji sikap mereka ..mereka itu bersikap lemah lembut pada sesama mu’min dan bersikap tegas kepada orang-orang kafir.. [7] Sehingga berkata ‘Atha: Mereka kepada orang-orang mu’min adalah seperti seorang ayah pada anak-anak mereka, tetapi kepada orang-orang kafir seperti seperti harimau pada mangsanya.

Berkata Ibnu Mas’ud ra: Bersabda Nabi SAW: Tidak akan masuk jannah orang yang dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan. [8] Juga telah berkata SAW: Maukah kalian aku kabarkan tentang ahli neraka? Yaitu orang-orang yang pencela, keras hati dan sombong. [9] Dan telah bersabda Nabi SAW: Maukah aku kabarkan pada kalian orang-orang yang neraka diharamkan atas mereka? Yaitu mereka yang lembut perkataannya, halus budinya dan mudah dalam segala hal. [10]

Jenis-Jenis Tawadhu’

Hendaknya seorang da’i bersikap tawadhu’ terhadap kebenaran, merendahkan diri padanya dan tunduk padanya dan tidak berusaha mendebat pada kebenaran tersebut walaupun tidak ia sukai, karena SAW telah menafsirkan kesombongan dalam sabdanya sbb: Sombong itu ialah menutupi kebenaran dan menipu manusia [11]. Oleh karenanya jika ada sebuah ketentuan syariat yang shahih tapi terasa berat atau tidak masuk akal olehmu, maka ketahuilah bahwa semua itu karena kelemahan dan kebodohanmu semata-mata, karena ilmu ALLAH SWT itu teramat luas dan tiada berbatas, sementara kemampuan dan kapasitas manusia demikian kecil dan sempit takkan mampu menyelami semua hikmah-NYA, maka jangan sekali-kali kamu bersikap takabbur dan menolaknya.

1. Bersikap tawadhu’ pada agama: Yaitu menerima semua apa yang bersumber dari ALLAH SWT dan Rasul-NYA, dengan tunduk dan pasrah sebulat-bulatnya.

a. Tidak menolak sedikitpun baik akalnya, perasaannya, maupun perbuatannya.

b. Tidak meragukan dalil agama tersebut dengan sangkaan bahwa dalil tersebut tidak masuk akal, kurang, atau tidak sempurna; melainkan sebaliknya ia langsung merasa mungkin kefahamannya, akalnya atau pemikirannya yang kurang atau belum memiliki ilmu tentang hal tersebut.

c. Tidak mencari-cari jalan lain yang berbeda dengan dalil tersebut baik dalam batinnya, lisannya atau perbuatannya, karena hal tersebut merupakan sifat orang munafiq.

2. Ridha terhadap apa yang diridhai oleh kebenaran, maka jadilah ia sebagai budak ALLAH SWT dan saudara bagi orang muslim dan tidaklah bermusuhan dengan kebenaran itu setitikpun.

3. Segera menjadikan kebenaran itu bagian dari dirinya, baik dalam pemikirannya maupun perbuatannya.

Seorang yang Tawadhu’ adalah Sangat Mengenal Rabb-nya

Sebagaimana perkataan Abubakar ra: Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan seorang muslim, karena semakin kecil seorang muslim di mata kalian maka ia semakin besar dimata ALLAH.

Seorang yang tawadhu’ sangat mengenal Rabb-nya maka saat ia berkumpul dengan orang-orang yang lemah, atau miskin atau hina maka ia pun ingat firman Tuhannya: Maka bersabarlah kalian bersama-sama orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan petang hari karena menginginkan keridhoan-NYA dan janganlah kalian palingkan mata kalian dari mereka karena menginginkan perhiasan dunia, dan janganlah kalian taati orang-orang yang hati mereka telah KAMI kunci dari mengingat KAMI dan mereka selalu mengikuti hawa nafsu dan adalah kehidupan mereka itu melampuai batas. [12]

Demikian banyak perintah Rabbnya untuk senantiasa bersikap tawadhu’ di antaranya: Dan janganlah kalian berjalan di atas bumi ini dengan menyombongkan diri, karena kalian tidak akan mampu menembus bumi atau menjulang setinggi gunung [13]. Dalam ayat yang lain: Negeri akhirat itu KAMI jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan di muka bumi dan kerusakan [14]. Dan derajat tawadhu’ tersebut yaitu:

1. Tidak mendahului sesama muslim, dalam berjalan, berbicara, berpendapat dsb melainkan selalu berada di belakangnya kecuali jika berada di depan tersebut memang dibutuhkan oleh Islam dan kaum muslimin.

2. Agar ia menyampaikan ilmunya dalam majlis jika tidak ada yang lebih mengetahui, tetapi jika ada yang lebih mengetahui maka hendaklah ia mempersilakan orang tersebut dan ia diam mendengarkan kecuali jika ada kesalahan.

3. Hendaklah ia menemui orang lain dengan gembira dan lemah lembut dan menanyakan keperluannya jika membutuhkan tanpa merasa lebih dari orang tersebut.

4. Hendaklah sering duduk-duduk diantara orang faqir, miskin, sakit dan mendoakan mereka.

5. Hendaklah makan dan minum tanpa berlebihan, demikian pula dalam berpakaian.

Di Antara Contoh Ketawadhu’an Rasulullah SAW

Adalah Anas ra jika bertemu dengan anak-anak kecil maka selalu mengucapkan salam pada mereka, ketika ditanya mengapa ia lakukan hal tersebut ia menjawab: Aku melihat kekasihku Nabi SAW senantiasa berbuat demikian. [15]

Dari abi Rifa’ah Tamim bin Usaid ra berkata: Aku datang pada Nabi SAW saat beliau SAW sedang berkhutbah, maka aku berteriak: Wahai Rasul ALLAH! Seorang asing datang ingin bertanya tentang agama karena ia tidak mengerti agama! Maka beliau SAW bersegera menghampiriku dan meninggalkan khutbahnya lalu didudukkannya aku di kursi agar aku beristirahat lalu diajarkannya dari ayat-ayat ALLAH, lalu setelah aku puas barulah ia kembali ketempatnya dan meneruskan khutbahnya. [16]

Dari Anas ra bahwa adalah Nabi SAW jika makan makanan maka ia menggunakan 3 jarinya, dan ia SAW bersabda: Jika jatuh suapan kalian maka ambil dan bersihkanlah, dan jangan kalian tinggalkan untuk syaithan. Dan beliau SAW juga memerintahkan kami untuk menjilat jemari tangan, beliau bersabda: Karena kalian tidak mengetahui di mana ALLAH SWT meletakkan barakah-NYA dalam makanan kalian. [17]

Dari abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda: Tidaklah ALLAH SWT mengutus seorang nabi kecuali pernah menjadi penggembala kambing. Lalu sahabat ra bertanya: Lalu bagaimana dengan anda wahai Rasulullah? Jawab Nabi SAW: Ya, aku pun dulu menggembala kambing untuk dengan upah beberapa qirath bagi penduduk Makkah. [18] Dan dari abu Hurairah ra juga berkata: Bersabda Nabi SAW: Seandainya aku diundang makan walau hanya sesuap maka pasti aku mau, dan seandainya ada yang memberiku hadiah walau segenggam maka pasti aku terima. [19]

Dari Anas ra berkata: Nabi SAW memiliki seekor unta yang diberi nama al-’adhba` yang tidak terkalahkan larinya, maka datang seorang ‘a’rabiy dengan untanya dan mampu mengalahkan, maka hati kaum muslimin terpukul menyaksikan hal tersebut sampai hal itu diketahui oleh nabi SAW, maka beliau bersabda: Menjadi haq ALLAH jika ada sesuatu yang meninggikan diri di dunia pasti akan direndahkan-NYA. [20]

Abu Said al-Khudarii ra pernah berkata: Jadilah kalian seperti Nabi SAW, beliau SAW menjahit bajunya yang sobek, memberi makan sendiri untanya, memperbaiki rumahnya, memerah susu kambingnya, membuat sandalnya, makan bersama-sama dengan pembantu-pembantunya, memberi mereka pakaian, membeli sendiri keperluannya di pasar dan memikulnya sendiri ke rumahnya, beliau menemui orang kaya maupun miskin, orang tua maupun anak-anak, mengucapkan salam lebih dulu pada siapa yang berpapasan baik tua maupun anak, kulit hitam, merah, maupun putih, orang merdeka maupun hamba sahaya sepanjang termasuk orang yang suka shalat.

Dan beliau SAW adalah orang yang sangat rendah hati, lembut perangainya, dermawan luar biasa, indah perilakunya, selalu berseri-seri wajahnya, murah senyum pada siapa saja, sangat tawadhu’ tapi tidak menghinakan diri, dermawan tapi tidak berlebih-lebihan, mudah iba hatinya, sangat penyayang pada semua muslimin. Beliau SAW datang sendiri menjenguk orang sakit, menghadiri penguburan, berkunjung baik mengendarai keledai maupun berjalan kaki, mengabulkan undangan dari para hamba sahaya siapapun dan dimanapun. Bahkan ketika kekuasaannya SAW telah meliputi jazirah Arabia yang besar datang seorang ‘A’rabiy menghadap beliau SAW dengan gemetar seluruh tubuhnya, maka beliau SAW yang mulia segera menghampiri orang tersebut dan berkata: Tenanglah, tenanglah, saya ini bukan Raja, saya hanyalah anak seorang wanita Quraisy yang biasa makan daging kering. [21]

Teladan Yang Tinggi dari Sifat Tawadhu’

Umar bin Abdul Aziz saat menjabat khalifah pernah suatu malam kedatangan tamu, saat itu ia sedang menulis, sementara pelita hampir habis minyaknya maka ia permisi untuk mengambil minyak, maka tamunya berkata: Apakah khalifah mengambilkan minyak karena aku? Jawab khalifah: Bukan seorang yang mulia jika tidak memuliakan tamunya. Maka kata tamunya: Tidakkah Anda membangunkan pelayan anda? Jawab khalifah: Ia lelah karena bekerja seharian. Maka berangkatlah ia ke gudang untuk mencari minyak, lalu dituangnya sendiri dari gentong minyak ke tempatnya lalu dibawanya dengan tangan dan bajunya bernoda bekas minyak. Maka kata tamunya: Anda lakukan sendiri hal ini wahai amirul mu’minin? Maka ia menjawab: Diamlah, aku ini hanyalah seorang Umar tidak berkurang sedikitpun, dan sebaik-baik manusia adalah yang disisi ALLAH SWT tercatat sebagai seorang yang tawadhu’.

Juga pernah salah seorang putra Umar bin Abdul Aziz membeli cincin seharga 1000 dirham, maka saat terdengar oleh Umar mk ia menulis surat: Telah sampai kabar kepadaku bahwa kamu telah membeli cincin dengan harga sekian, maka apabila sampai suratku ini juallah cincin tersebut dan kenyangkan 1000 orang dengan uangmu itu, lalu belilah cincin seharga 2 dirham saja. Ketika putranya telah melakukan apa yang dimintanya maka ia menulis surat: Segala puji bagi ALLAH yang telah mengingatkan putra Ibnu Abdul Aziz akan kadar dirinya.

Al-Hasan ra pernah berjalan dan bertemu dengan beberapa hamba sahaya yang sedang memakan roti kering tanpa lauk, maka ia turun untuk ikut makan bersama orang-orang miskin tersebut, lalu setelah itu ia membantu mengangkatkan barang-barang yang dibawanya, lalu diajaknya ke rumahnya untuk makan bersama. Lalu ketika orang-orang merasa kagum atas hal tersebut ia berkata: Mereka lebih mulia dariku, karena mereka menjamuku dengan semua yang mereka miliki, sedangkan aku hanya menjamu mereka dari sebagian kecil yang aku miliki.

Kebutuhan Da’i akan Tawadhu’

Seorang da’i lebih membutuhkan sifat ini daripada yang lain. Kenapa? Karena ia ingin memperbaiki manusia, maka sebelum ia memperbaiki orang lain ia harus menjadi contoh bagi masyarakat tentang berbagai akhlaq Islam yang mulia. Dan karena sifat manusia tidak akan menerima perkataan siapapun jika disampaikan dengan disertai perasaan lebih tinggi atau lebih baik dari si penyampai walaupun kata-katanya itu benar. Maka hendaklah seorang da’i saat berbicara menghindari banyak menyebut kata “saya” dan “saya”, hendaklah disadarinya bahwa apa yang dimiliki dan ada pada dirinya semua adalah dari dan milik ALLAH SWT. Maka hendaklah ia berkata dan bercerita banyak tentang keutamaan dan ketinggian ALLAH dan menjauh dari menceritakan tentang kelebihan dan ketinggian dirinya sendiri. Hal ini juga terlebih-lebih kepada orang yang lebih ‘alim atau pemimpinnya dalam jama’ah, janganlah sekali-kali ia merasa lebih baik dan lebih layak dari pemimpinnya, hendaklah diingatnya bahwa Nabi SAW pernah mengangkat Usamah ra yang masih sangat muda, sementara pasukannya adalah para sahabat senior dari Muhajirin dan Anshar, dan saat sebagian dari pasukan tersebut meragukan kepemimpinan Usamah, maka beliau SAW marah dan bersabda: Jika kalian mencela kepemimpinannya maka berarti kalian juga mencela kepemimpinan ayahnya sebelumnya! Demi ALLAH, ia adalah orang yang paling layak untuk memimpin pasukan dan ia adalah orang yang paling aku cintai, dan ia juga tetap adalah yang paling aku cintai sepeninggalku nanti. [22]

Oleh sebab itu, maka seorang da’i yang faqih setiap ia mendapatkan kesuksesan, keberhasilan dan pertolongan dalam dakwahnya maka akan semakin tawadhu’ dan makin meyakini kebesaran dan kekuasaan Penciptanya. Demikianlah Nabi kita SAW telah berhasil menaklukkan Makkah dengan gilang gemilang, tapi pada saat penaklukan tersebut beliau SAW menundukkan kepalanya sampai hampir-hampir menyentuh punggung untanya sambil mengulang-ulang ayat: Inna fatahna laka fathan mubina.. Beliau SAW meyakini bahwa semua kemenangan dan keberhasilan yang diperolehnya adalah semata-mata karunia ALLAH SWT.

WaLLAAHu a’lamu Bish Shawaab…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s